Rabu, 31 Oktober 2018

Membangun Karakter Siswa di Era Milenial


Membangun Karakter Siswa di Era Milenial
oleh: Eka Sri Rahayu

            Karakter merupakan sifat yang membedakan indvidu satu dengan individu lain. Setiap individu mempunyai karakter bawaan keturunan yang dimiliki sejak lahir dan karakter yang dipengaruh oleh lingkungan. pembentukan karakter dimulai sejak dini dengan menanamkan hal-hal yang positif, serta menempatan siswa dilingkungan yang positif pula. Diera milenial pendidikan moral untuk membangun karakter siswa sangat penting. Disebut dengan era milenial karena tak lepas dari teknologi yang berkembang. Di era ini siswa cenderung tak lepas dari teknologi yang ada terutama smartphone yang didalamnya selain sebagai media komunikasi pun juga sebagai media informasi yang bersumber dari berbagai penjuru dunia. dari media-media penunjang informasi tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi pemahaman dan kesadarannya hingga tanpa disadari seiring berjalannya waktu akan mempengaruhi perubahan karakter yang ada dalam dirinya.  Generasi milenial ini dituntut untuk memperkuat pondasi atas dirinya agar tidak kehilangan arah ditengah kemajuan zaman yang juga menciptakan banyak ketimpangan sosial serta pergeseran kehidupan. Pendidikan menjadi sangat penting di era milenial terutama pendidikan karakter. Pentingnya pendidikan karakter salah satunya ditandai dengan ditandatangani PerPres No. 87 oleh Presiden Joko Widodo tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada 6 September 2017. Membangun pendidikan karakter sejak dini dalam diri siswa dapat dimulai dari lingkungan keluarga karena lingkungan keluarga adalah lingkungan yang paling dekat dengan siswa. Selain lingkungan keluarga lingkungan sekolah adalah lingkungan terdekat kedua sebagai pembangun karakter siswa karena bagian terbanyak waktu siswa tersita dilingkungan sekolah. Membangun karakter siswa diera milenial juga bisa dengan cara mengubah cara berfikir siswa menjadi kritis. Terutama kritis terhadap dampak negative dan positif dari teknologi dan apa yang ada didalamnya. Mengabil sisi positif yang ada didalamnya dan menjauhi hal negative. Menarik untuk merenungkan apa yang diucapkan oleh Carver Mead ‘Kita dibatasi, bukan oleh teknologi yang kita miliki, melainkan oleh cara berpikir. Kita masih berpikir dengna cara yang sama seperti yang kita lakukan dua ratus tahun yang lalu, seolah-olah tidak ada sesuatu pun yang terjadi’. Siswa yang berkarkter akan mampu memanfaatkan teknologi dengan sebaik-baiknya dan membangun karakter kuat agar tidak mudah terpengaruh hal negative dari teknologi.
Dalam pembangunan karakter terdapat nilai-nilai pembangun karakter. Membangun karakter dengan menanamkan nilai-nilai pembangun karakter yang diharapkan siswa menjadi semakin baerkarakter di era milenial ini. Dengan semakin kuatnya karakter siswa tidak mudah tergilas serta terseret arus negative dari globalisasi. Berikut nilai-nilai pembangun karakter:
11. Religius
Nilai religious termasuk nilai pembentuk karakter yang paling penting dan perlu ditanamkan secara maksimal. Penanaman nilai religious ini menjadi tanggung jawab orang tua dan sekolah. Penanaman nilai religious lebih diintesifkan dari pihak keluarga sejak kecil. Dalam pembangunan karater nilai religious dan nilai-nilai keagamaan sangat penting untuk menjadi benteng diri serta pondasi atas dalam menghadapi era milenial.
22. Jujur
Jujur merupakan nilai penting yang harus dimiliki oleh semua orang. Nilai jujur penting untuk ditumbuhkembangkan sebagai karakter karena di era milenial ini kejujuran semakin terkikis. Semakin pesatnya perkembangan teknologi, kejujuran semakin banyak tertindih oleh banyak sekali kebohongan. Di era milenial ini pemutar balik fakta dianggap sebgai masalah yang kecil dan semakin menyepelekan kejujuran akan sebuah kebenaran. Jadi, pentig sekali menanamkan kesadaran akan kejujuran sejak dini dalam diri siswa.
  3. Toleransi
Toleransi merupakan sikap yang sangat penting dalam pembangunan karakter. Di era milenial ini karagaman semakin mudah dijangkau. Bisa ditemui dlaam lingkup yang paling terjangkau adalah dalam keluarga siswa itu sendiri contohnya seperti toleransi terhadap keinginnan anggota keluarga yang lain yang bertentangan dengan keinginanya.
44. Disiplin
Salah satu kelemahan kita adalah disiplin. Disiplin merupakan pengaruh yang dirancang untuk membantu siswa mampu menghadapi lingkungan. penanaman disiplin dilakukan sejak dini. Karena disiplin adalah kunci salah satu kunci kesuksesan.
55. Kerja keras
Penanaman nilai kerja keras dalam pembentukan karakter itu sangat penting. Di era milenial ini dengan semakin berkembangnya teknologi yang membuat banyak hal menjadi serba instan membuat siswa dan masyarakat luas cenderung pragmatis serta malas. Harus ditanamkan dalam diri siswa bahwa sesuatu yang ada didunia ini butuh kerja keras dan tanpa melalui kerja keras maka tidak akan mendapatkan apa yang dicita-citakan.
66. Kreatif
Generasi milenial dengan semakin berkembangnya teknologi dan peradaban diharuskan untuk terus berfikir kreatif. Kreatif sebagai salah satu pembangunan karakter yang sangat tepat karena kreatif akan menjadikan seseorag tidak pasif. Semakin majunya IPTEK di era milenial ini siswa diharapkan memiliki karakter yang kreatif dengan ditunjangnya teknologi.
77. Mandiri
Tantangan kehidupan sekarang ini menuntut semua orang agar berjuang dalam menghadapi tantangan kehidupan yang kompleks. Generasi milenial memang cenderung degngan sikap individualis. Dalam konteks ini mandiri bukan berarti tidak memiliki kepedulian terhadap sesame namun kemandirian diharap mampu ditumbuhkembangkan dalam kebersamaan. Pentingnya penanaman sifat mandiri sejak kecil dalam diri siswa. Hingga dengan terciptanya kemandirian tersebut siswa dapat menghadapi tantangan dan dan hambatan di era milenial ini dengan tetap memegang teguh karakter mereka.
88. Rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu yang tinggi dalam setiap manusia adalah hal lumrah. Namun rasa keingintahuan tersebut harus dilandasi dengan keteguhan diri agar tidak gampang terpengaruh oleh hal-hal yang negative.  Tanpa disadari rasa ingin tahu menjadi salah satu factor pembentuk karakter. Di era milenial ini informasi semakin mudah didapat. Sealh satunya informasi sebagai jawaban dari rasa keingintahuan.
99. Semangat kebangsaan dan Cinta Tanah Air
Di era milenial ini semangat kebangsaan mulsi banyak yang terkikis dalam diri siswa. Kebanyaka siswa cenderung acuh dan lebih terfokus pada apa yang sudah ada digenggaman mereka. Dan rentan sekali terpengaruh dengan apa yang mereka ketahui salah satunya adalah smartphone yang belum tentu terfilter. Mereka juga lebih banyak mengenal budaya asing daripada budaya sendiri, pun juga lebih banyak mengetahui super hero yang asalnya dari luar negeri daripada mengetahui pahlawan-pahlawan dalam negeri sendiri. Semangat kebangsaan penting menjadi nilai pembentuk karakter karena menguhkan arti dan makna penting sebagai warga Negara. Penting sekali menanamkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air di era milenial ini.
110. Menghargai prestasi
Di era milenial ini arus kompetisi semakin ketat. Prestasi dapat dicapai bukan hanya malaui kompetisi namun juga dapat dicapi dari hal-hal yang lain. Prestasi merupakan produk atau hasil dari sebuah proses. Dalam hal ini menghargai prestasi bukan hanya dengan menghargai hasilnya saja namun menghargai prestasi harus menghargai proses. Ditengah iklim yang semakin kompetitif dan pragmatik, harus selalu ditanamkan dalam diri siswa bahwa prestasi sangat penting, namun yang lebih penting adalah pencapaian prestasi yang dilakukan dengan cara maksimal dan sportif.
1 11. Peduli sesama serta peduli lingkungan
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tidak bisa dipisahkan dengan lingkungan pun juga makhluk sosial. Diera milenial ini karakter siswa cenderung individualis, pragmatis. Karakter siswa zaman sekarang jauh berbeda dengan siswa zaman dahulu. Terkait dengan moral pun menurun. Sikap kepeduliah terkadang hanya disampaikan melalui ‘like’ madia sosial sebagi eksitensi semata. Pun juga kepedulian terhadap lingkungan semakin menurun pula.

Daftar Pustaka
Naim, Ngainun. 2012. CHARACTER BUILDING; Optimalisasi Peran Pendidikan dalam Pengembangan Ilmu dan Pembenukan Karakter Bangsa. Jogjakrta; Ar-Ruzz Media.

Rabu, 11 April 2018

renungan


Dasar Manusia!


Dasar Manusia!
oleh Eka Sri Rahayu

Membara,
Bertarung dengan guratan senja.
Bergurau dengan angan.
Ingin melangkah bersama bayangan, namun pupus diterpa harapan .
Lalu mencoba berdiri bersama mimpi, dan terjatuh mendengar kenyataan tak sejalan dengan keinginan.
Kita terlalu naïf,
Juga terlalu rakus berlomba-lomba menggenggam gemerlap  bintang.
Kemudian lupa cara berdamai dengan kenyataan.
Saat semesta berlaku nista.
Lalu kita yang hina bisa apa?
Semakin jauh berjalan, semakin pelan meyokong tekanan.
Berkata kesana kemari penuh peluh hingga lelah.
Lalu kau anggap apa? Tong kosong nyaring bunyinya?
Bersuara lantang ditelinga mereka.
Namun sayang, telinga sendiri tuli tak mengenal bahasa.
Dasar manusia!

Karya Ilmiah tentang pendidik dalam pendidikan Islam


PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM
KARYA ILMIAH
Untuk memenuhi tugas mata kuliah  Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu :
Syauqi Futtaqi M.Pd.I
Disusun Oleh:
Eka Sri Rahayu

UNIVERSITAS ISLAM DARUL ‘ULUM (UNISDA) LAMONGAN
FAKULTAS AGAMA ISLAM
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TP. 2018









Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberi saya rahmat serta hidayahNYA pada saya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perspektif Islam Tentang Sifat Pendidik” untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia.
            Pada kesempatan ini saya selaku penyusun makalah mengucapkan terimakasih kepada Bapak Syauqi Futtaqi selaku dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia. Dan saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang sengaja maupun tidak sengaja telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini.
            Harapan saya sebagai penyusun makalah semoga isi dari makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca maupun saya sendiri sebagai penyusun. Aamiin.






Lamongan, 04 April 2018










DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................ 1
1.3 Tujuan........................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sifat pendidik ala rasulullah dalam pendidikan islam.................................................. 2
BAB III PENUTUPAN
3.1 Kesimpulan .................................................................................................................. 6
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................ 7

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam pendidikan islam pendidik adalah salah satu hal utama. Karena tanpa adanya pendidik bagaimana ilmu yang dipelajari dapat tersambung dengan baik kepada semua manusia. Pendidik adalah orang dewasa  yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan individu yang mandiri. Sifat pendidik adalah hal utama yang harus dajaga sebagai pendidik karena sifat pendidik pula yang akan mendorong datang nya kesuksesan dalam mendidik dan anak didik itu sendiri.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Sifat pendidik ala rasulullah dalam pendidikan islam?
1.3  Tujuan
1.      Mengetahui sifat pendidik ala rasulullah  dalam pendidikan islam.











BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sifat Pendidik Dalam Ala Rasulullah dalam Pendidikan Islam
Dalam beberapa literatur kependidikan pada umumnya, istilah pendidik sering diwakili oleh istilah guru, orang yang pekerjaanya mengajar atau memberikan pelajaran disekolah/kelas. Sebagai kosa kata yanag bersifat generic,  pedidik mencakup pula guru, dosen, dan guru besar. Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Adapun dosen adalah pendidik professional dan ilmuan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam kamus bahasa Indonesia kata pendidik berarti orang yang mendidik.[1]
Di dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang merupakan sumber utama pendidikan islam, terdapat sejumlah istilah yang mengacu kepada pengertian pendidik dan masing-masing mempunyai pengertian yang berbeda, istilah tersebut antara lain: 1) Ketika berperan sebagai orang yang menumbuhkan, membina, dan mengembangkan potensi anak didik serta membimbingnya maka ia disebut al-murabbi. 2) Ketika berperan sebagai pemberi wawasan ilmu pengetahuan dan keterampilan, ia disebut al-muzallim. 3) Ketika ia membina mental dan karakter seseorang agar memiliki akhlak mulia, ia disebut al-muzakki. 4) Ketika berperan sebagai pene;iti yang berwawasan transcendental serta memiliki kedalaman ilmu agama dan ketakwaan yang kuat kepada Allah, ia disebut al-ulama. 5) Ketika dapat berpikir secara mendalam dan menangkap makna yang tersembunyi, ia disebut al-rasikhum fil al ‘lm. 6) Ketika tampil sebagai pakar yang mumpuni, menjadi tempat bertanya dan rujukan, ia disebut ahl al dzikr. 7) Ketika ia dapat menyinergikan hasil pemikiran rasional dan hasil perenungan emosional, ia disebut ulul al bab. 8) Ketika ia dapat membina kader-kader pemimpin masa depan bangsa yang bermoral, ia disebut al-muaddib. 9) Ketika ia menunjukan sikap yang lurus dan menanamkan kepribadian yang jujur dan terpuji, ia disebut al mursyid. 10) Ketika ia berperan sebagai ahli agama, ia disebut fakih.[2]
Seorang pendidik pada hakikatnya adalah bukan melulu sebuah profesi atau pekerjaan yang hanya bertujuan untuk menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup seorang pendidik dan keluarganya sendiri bagi kehidupan mereka. Namun seorang pendidik ia mengajar karena panggilan agama dalam hatinya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengharapkan Ridha-Nya, menghidupkan agama-Nya, mengembangkan seruan-Nya, dan menggantikan peranan Rasulullah SAW.
Hendaknya sebagai seorang pendidik hendaknya memiliki sifat-sifat tertentu sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw. Beliau juag seorang pendidik yang selalu mengajar umatnya dengan berbagai macam hal. Dalam mengajar beliau memiliki sifat mulia. Fu’ad Shalhub telah menjabarkan beberapa sifat Rasulullah Saw. Sebagai pengajar pendidikan islam. Sebagai berikut.
1.      Ikhlas
Sifat ikhlas dianjurkan oleh Rasulullah karena niat yang ikhlas menjadi penentu sebuah perbuatan. Oleh karena itu pula seorang pendidik harus menanamkan sifat ikhlas pada dirinya sendiri serta pada anak didiknya.
2.      Jujur
Sifat jujur harus ditanamkan pula pada anak didik kita dan terutama pada diri kita sendiri, karena jujur adalah penyelamat bagi guru di dunia dan akhirat. Berbohong kepada murid akan menghalangi penerimaan dan menghilangkan kepercayaan.
3.      Walk The Talk
Pendidik hendaknya mengerjakan apa yag dia katakan. Adanya perbedaan ucapan dengan dengan perilaku seorang guru hanya akan membuat seorang murid berada dalam kebingungan. Seorang guru yang tidak mengamalkan apa yang mereka katakan kepada muridnya hanya akan merendahkan martabat dirinya dihadapan orang yang seharusnya menghormatinya.
4.      Adil dan Egaliter
 Allah memerintahkan umatnya bersifat adil serta tidak membedakan satu sama lain. Allah memerintahkan untuk bersifat adil dan mewajibkan hamba-Nya untuk berlaku adil terhadap kerabat dekat ataupun jauh, juga terhadap musuh sekalipun. Mewujudkan sikap adil dan menyamakan hak setiap murid sangat penting karena sikap tersebut akan menebarkan rasa cinta dan kasih sayang diantara mereka.
5.      Akhlak Mulia
Akhlak adalah sikap terpuji yang harus dimiliki oleh setiap guru. Kemudian ia memerintahkan kepada murid-muridnya untuk berakhlak baik. Sikap kasih sayang serta kelapangan hati seorang pendidik akan dapat menangani kebodohan seorang murid.
6.      Tawadhu’ (Rendah Hati)
Sikap ini akan memberikan dampak positif bagi pendidik maupun anak didik. Karena sifat tawadhu’ dapat menghancurkan batas antara guru dan muridnya.
7.      Berani
Sifat berani adalah sifat yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Sifat berani bukan hanya dalam menegur serta menunjukkan kebenaran kepada murid yang bermoral rendah, dan berakhlak buruk. Melainkan juga berani mengakui kesalahan diri sendiri jika memang dia melakukan kesalahan dan juga menegur dan mengakui kesalahan pendidik lain.
8.      Jiwa humor yang sehat
Humor yang sehat dapat menghilangkan jenuh yang murid rasakan. Humor akan menciptakan rasa nyaman di ruang kelas, halaqah (lingkaran), atau pertemuan tertentu. Namun, dalam humor ini juga harus memperhatikan larangan untuk tidak berlebih-lebihan dalam bersenda gurau, agar pelajaran yang hendak dicapai tidak keluar dari yang dicita-ciakan dan tidak menghilangkan faedah yang diharapkan. Karena, berlebih-lebih dalam bersenda gurau hanya akan menghilangkan kewibawaan dan kehormatan. Senda gurau hendaknya tidak dilakukan kecuali dalam hal kejujuran atau kebenaran dan tidak menyakiti atau menghina murid.
9.      Sabar dan menahan marah
Hal yang paling penting dan paling baik bagi kesuksesan seseorang adalah sabar. Sedangkan amarah adalah perasaan dalam jiwa yang tak mampu mengkontrol diri hingga membuat kita lemah dalam melihat kebenaran. Kekuatan seorang pendidik terletak pada bagaimana dia mampu mengendalikan amarahnya ketika terjadi sesuatu yang memgusik hatinya. Dan bagaimana ia mampu menguasai akal sehatnya.
10.  Menjaga lisan
Sebuah peribahasa telah mengatakan “Lisan lebih tajam dari pedang”. Maka menjaga lisan adalah hal yang paling penting. Sebagai seorang pendidik yang tidak bisa menjaga lisan akan menjatuhkan harkat dan derajat.
11.  Sinergi dan musyawarah
            Bermusyawarah dan kesinergisan dapat membantu pendidik dalam menghadapi suatu permasalahan dan perkara sulit yang dihadapinya. Bermusyawarah juga penting karena dengan bermusyawarah dan bersinergi para pendidik dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi hingga dapat mencetuskan hal-hal baru terkait pendidikan islam.



BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Pendidik adalah orang yang mendidik, seperti guru dan dosen yang mendidik kita disekolah dan dikelas. Beberapa sifat Rasulullah Saw. Sebagai pengajar pendidikan islam. Ikhlas, jujur, walk the talk, Adil dan Egaliter, Akhlak Mulia, Tawadhu’ (Rendah Hati), Berani, Jiwa humor yang sehat, Sabar dan menahan marah, Menjaga lisan, Sinergi dan musyawarah, dan Adil.




















DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr H. Abdullah  Nata, M.A.  Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta. Pranada Media. 2010.
Fauzi, Imron. Manajemen Pendidikan Ala Rasulullah. Jogjakarta. AR-RUZZ MEDIA. 2014.



[1] Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), Cet. Ke-III, h.263.
[2]   Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Pranada Media, 2010), hlm. 7.